Scroll Untuk Baca Artikel
DaerahSeni dan Budaya

Tengku Sofyan Abdulillah, S.E: Pemimpin Beradat, Harapan Umat, dan Cahaya Budaya Melayu Deli Serdang

×

Tengku Sofyan Abdulillah, S.E: Pemimpin Beradat, Harapan Umat, dan Cahaya Budaya Melayu Deli Serdang

Sebarkan artikel ini

Reporter: Rendi Adhiyaksa

Tengku Sofyan
Foto: Tengku Sofyan Abdulillah, S.E, Tokoh Muda Melayu Sekaligus Anggota DPRD Deli Serdang Fraksi PPBI

Deli Serdang | TambunPos.com — Dalam sejarah panjang tanah Serdang, tak sedikit tokoh muda datang dan pergi. Namun hanya segelintir yang meninggalkan jejak, bukan hanya di atas batu, melainkan didalam hati. Di antara nama-nama itu, satu kini kembali menggema: Tengku Sofyan Abdulillah, S.E. Ia tidak hanya dipanggil untuk kembali memimpin, tetapi diundang oleh rasa, harapan, dan cinta dari masyarakat Melayu Serdang yang merindukan arah, marwah, dan jatidiri.

Musyawarah Daerah ke-5 Pengurus Daerah Gerakan Angkatan Muda Melayu Indonesia (PD GAMI) Deli Serdang kini menjadi ajang bukan sekadar perebutan jabatan, tapi pertaruhan nilai. Di tengah arus zaman yang menggempur akar budaya, GAMI dipanggil untuk menjadi tiang. Dan bagi banyak kalangan, tiang itu membutuhkan nakhoda yang tak hanya kuat, tapi juga arif dalam membaca pusaka, dan lembut dalam memimpin manusia.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Salah satu suara dukungan datang dari Sigit, Ketua PC GAMI Pantai Labu, yang menyatakan dengan penuh kepercayaan:

“Beliau bukan hanya layak, tapi sangat pantas. Tengku Sofyan adalah pemimpin yang telah membuktikan diri. Di masa lalu, di bawah arahannya, GAMI hidup dan berdetak. Bukan hanya secara organisasi, tapi secara nilai. Kami dihargai sebagai anak Melayu. Beliau tidak sekadar memimpin, beliau menghidupkan kembali kebersamaan.”

Baca Juga:Miris, Di Balai Desa Lebeng Jumuk Tidak Terpasang Bendera

Baca Juga: SPBU Bernomor 14.202.140 Jl. A.R. Hakim Medan Diduga Jual Bahan Bakar Minyak Subsidi Pertalite Dengan Jerigen

Menurut Sigit, kepemimpinan Tengku Sofyan adalah wajah GAMI yang ideal—tegas tapi tidak kaku, santun tapi tidak lemah. Ia mampu menjadi jembatan antara generasi muda dengan nilai-nilai lama yang luhur, dan itulah yang saat ini sangat dibutuhkan.

Senada dengan Sigit, dukungan juga datang dari kalangan muda. OK Alamsyah Putra, S.Pd, seorang pendidik sekaligus aktivis budaya, menyuarakan harapan besar kepada sosok Tengku Sofyan:

“Sebagai anak Melayu Serdang, saya melihat bahwa beliau sangat cocok untuk kembali memimpin PD GAMI. Di tangan Tengku Sofyan, GAMI bukan hanya akan berkibar dan jaya, tapi juga memainkan peran penting dalam mewujudkan masyarakat yang beradat dan negeri yang berdaulat. Budaya bukan sekadar ornamen—bersamanya, budaya bisa menjadi kekuatan.”

Bagi Alamsyah, GAMI di era Tengku Sofyan adalah organisasi yang tidak kehilangan jiwa. Ia menjadi ruang belajar, tempat mengabdi, dan panggung bagi pemuda Melayu untuk menemukan identitas serta menjalankan peran di tengah bangsa yang majemuk.

Lantas, bagaimana tanggapan dari sang tokoh sendiri atas dorongan yang kian deras?

Tengku Sofyan Abdulillah, S.E akhirnya angkat bicara, dengan nada khasnya yang rendah hati namun penuh keyakinan:

“Saya bukanlah orang yang mengejar kekuasaan. Tapi jika amanah itu datang dari niat yang tulus dan suara yang ikhlas, insyaAllah saya bersedia. Ini bukan soal jabatan, tapi soal tanggung jawab menjaga marwah Melayu. Saya percaya, GAMI bukan sekadar organisasi. Ia adalah wadah peradaban. Jika saya dipercaya, saya ingin membawa GAMI lebih berakar, lebih kuat, dan lebih berarti bagi masyarakat.”

Dalam pandangan Tengku Sofyan, organisasi pemuda seperti GAMI harus hadir tidak hanya sebagai pelengkap formalitas, tapi sebagai pusat gerak budaya, pemikiran, dan pembinaan moral. Ia ingin menjadikan GAMI sebagai ruang pertemuan antara nilai tradisional dan semangat zaman baru.

Di masa lalu, Tengku Sofyan dikenal aktif mendorong kegiatan budaya seperti festival seni Melayu, pelatihan menulis aksara Jawi, pengenalan syair dan pantun di kalangan pelajar, serta mendorong penguatan ekonomi berbasis kearifan lokal. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang sering hadir langsung dalam berbagai kegiatan masyarakat, dari dusun ke dusun, dari surau ke balai adat.

Kini, dalam dinamika yang menuntut kejelasan arah, nama Tengku Sofyan menjadi oase. Ia tak menawarkan janji muluk, tapi menghadirkan ketenangan dan keyakinan. Ia bukan pembicara yang meledak-ledak, tapi jika ia berbicara, kata-katanya menjadi pegangan.

Dan di tengah gemuruh politik dan suara yang saling bersahutan, masyarakat Melayu tahu bahwa pemimpin sejati bukan yang datang saat panggung terang, tapi yang tetap tinggal saat lentera mulai redup.

Musda ke-5 akan menjadi penanda arah. Apakah GAMI akan kembali ke jati dirinya, atau terombang dalam arus zaman yang tak mengenal akar? Waktu akan menjawab.

Tapi satu hal pasti: jika GAMI ingin kuat, berbudaya, dan bermaruah, maka sosok seperti Tengku Sofyan Abdulillah, S.E bukan hanya pilihan—dia adalah jawaban.

(RD | TP)