Scroll Untuk Baca Artikel
Daerah

Setahun Tertunda, Musda Golkar Gunungkidul Tak Kunjung Jelas, Kader Akar Rumput Resah

×

Setahun Tertunda, Musda Golkar Gunungkidul Tak Kunjung Jelas, Kader Akar Rumput Resah

Sebarkan artikel ini

Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD Partai Golkar Kabupaten Gunungkidul hingga kini belum memiliki kepastian. Kondisi tersebut memicu keresahan di kalangan kader akar rumput yang menilai penundaan agenda organisasi itu berlarut-larut dan berpotensi mengganggu proses koordinasi serta konsolidasi internal partai.
‎
‎Koordinator Relawan Golkar Gunungkidul Supriyono menyampaikan, Musda seharusnya dilaksanakan pada 8 November 2025. Namun, hingga memasuki November 2026, agenda lima tahunan tersebut belum juga terlaksana.
‎
‎Kondisi ini membuat Golkar Gunungkidul tertinggal dalam pelaksanaan Musda dibandingkan daerah lain di DIY, seperti Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Kota Yogyakarta yang telah lebih dahulu menggelar agenda serupa.
‎
‎”Seharusnya Musda dilaksanakan pada 8 November 2025. Namun sampai sekarang belum juga terlaksana. Kami berharap ada kepastian agar roda organisasi bisa berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.
‎
‎Pengamat kebijakan publik sekaligus penasihat Partai Golkar Gunungkidul, Ratno Pintoyo, menyampaikan pandangan senada. Ia menilai keresahan kader tingkat bawah merupakan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan organisasi.
‎
‎Menurut Ratno, aspirasi yang muncul dari kader tingkat kapanewon dan simpatisan merupakan inisiatif murni dari bawah. Ia membantah anggapan bahwa gerakan tersebut ditunggangi kandidat tertentu yang berambisi maju sebagai pimpinan Golkar Gunungkidul.
‎
‎”Suara kader tingkat bawah dan simpatisan ini merupakan bentuk keresahan terhadap kondisi organisasi yang terkesan terus diulur-ulur tanpa kejelasan. Itu inisiatif kader sendiri, bukan karena ditunggangi kandidat yang ingin maju sebagai pimpinan Golkar Gunungkidul,” ungkap Ratno Kamis (5/11/2026).
‎
‎Lebih lanjut, Ratno menyayangkan apabila sejumlah elite partai di daerah justru lebih banyak mendengarkan aspirasi segelintir orang dibandingkan memperhatikan suara kader akar rumput.
‎
‎Menurutnya, kader di tingkat bawah merupakan bagian penting dari kekuatan partai yang tidak boleh diabaikan dalam menentukan arah organisasi.
‎
‎Ia mengingatkan, keberadaan partai politik tidak semestinya hanya berkutat pada kepentingan elite dan perebutan jabatan strategis. Golkar, kata dia, harus tetap mengedepankan kebersamaan, pengabdian, serta keberpihakan kepada masyarakat.
‎
‎Berlarut-larutnya kepastian Musda kini menjadi perhatian kader. Selain menyangkut regenerasi kepemimpinan, agenda tersebut juga dinilai penting untuk memastikan konsolidasi organisasi berjalan hingga tingkat bawah.
‎(her)