Scroll Untuk Baca Artikel
featuresNasionalPolitik

“Filosofi ‘Korea’ Bambang Pacul: Semangat Perjuangan dari Lapisan Bawah”

×

“Filosofi ‘Korea’ Bambang Pacul: Semangat Perjuangan dari Lapisan Bawah”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rendi Adhiyaksa

Bambang Pacul
Foto: Bambang Pacul Politisi Dari Partai PDI-P Dikenal Sebagai Komandannya Para KOREA

 

Deli Serdang | TambunPos.com, Di tengah pusaran politik dan pergulatan sosial, seorang tokoh dengan gaya tutur khas kembali mencuri perhatian. Bambang Wuryanto, atau yang lebih dikenal sebagai Bambang Pacul, menghadirkan sebuah istilah yang tak biasa dalam narasi perjuangannya: Korea. Namun, ini bukan Korea yang kita kenal sebagai negeri K-pop atau drama penuh romansa. Ini adalah Korea dalam arti yang lebih dalam—sebuah simbol militansi, perjuangan, dan tekad membaja.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Baca Juga: Desa Rugemuk: Konspirasi di Tanah Hutan Lindung, Ketika Negara Berlutut di Hadapan Kapital

Jejak Sejarah di Balik Istilah

Kata “korea” yang digunakan Bambang Pacul merujuk pada sejarah kelam era kolonial. Dahulu, pekerja dari Semenanjung Korea dibawa ke Indonesia oleh Jepang untuk kerja paksa sebagai romusha. Mereka berada di lapisan sosial paling bawah, tapi tetap menunjukkan daya juang yang luar biasa. Dari sinilah, makna “korea” yang dipakai Pacul lahir—sebagai metafora bagi orang-orang kecil yang ingin menembus batas nasib.

Bambang Pacul menegaskan, menjadi korea sejati berarti memiliki niat yang terang dan tujuan hidup yang jelas. Bukan sekadar bekerja keras tanpa arah, tetapi berjuang dengan strategi, keberanian, dan keyakinan bahwa setiap langkah menuju perubahan berharga. “Yang dikau pelihara sebagai korea adalah niatmu. Nawaitu-mu harus dibasuh sampai mengkilat,” ucapnya dalam satu kesempatan.

Ketika ‘Korea’ Menjadi Sebuah Filsafat Perjuangan

Di balik pilihan katanya yang lugas dan kadang meletup-letup, filosofi korea yang digaungkan Pacul mengandung pesan mendalam. Ia membagi manusia dalam tiga orientasi hidup: pemikiran, kekuasaan, dan finansial. Mereka yang ingin berjuang di jalur kekuasaan, kata dia, harus memahami medan tempur politik dan menempuh risiko maksimal.

“Seorang korea harus siap menghadapi tantangan. Jangan pernah takut jatuh, karena justru di sanalah ujian keteguhanmu,” tegasnya. Di dalam kata-katanya, ada semangat yang menyalakan api di dada para petarung kehidupan, mereka yang sedang mencari jalan keluar dari keterbatasan.

Narasi Perlawanan bagi Mereka yang Tak Ingin Menyerah

Di warung kopi, di perempatan jalan, di gang-gang sempit perkampungan, filosofi ini bisa saja menemukan tempatnya. Seorang buruh yang bekerja dari pagi hingga malam, seorang pemuda desa yang bermimpi besar, atau seorang pedagang kecil yang menantang arus ekonomi—mereka adalah korea yang sedang berjuang.

Bambang Pacul mungkin berbicara dalam bahasa yang khas, kadang berbungkus humor, tapi maknanya serius. Ia berbicara untuk mereka yang tak ingin menyerah, yang percaya bahwa perubahan bukan hanya milik segelintir orang, tetapi hak bagi siapa pun yang berani melangkah.

Lalu, apakah kita semua adalah korea dalam perjalanan hidup ini? Jawabannya ada di dalam niat dan langkah kita sendiri.

(RD | TP)