Scroll Untuk Baca Artikel
EdukasiKamtibmasKemanusiaan

Kerusuhan dan Penjarahan di Indonesia

×

Kerusuhan dan Penjarahan di Indonesia

Sebarkan artikel ini

Skenario Oligarki, Bayang “Geng Solo”, dan Upaya Membenturkan Polisi dengan Rakyat, Hingga Masuknya Intervensi Asing

Kerusuhan dan Penjarahan, Geng Solo
Polisi pada hakikatnya juga bagian dari rakyat. Jangan mau diadu domba, karena itulah yang justru diinginkan para provokator.

TambunPos.com,(Tambun Group) — Gelombang unjuk rasa yang berujung ricuh, kerusuhan dan penjarahan di berbagai daerah Indonesia memunculkan dugaan adanya skenario besar yang sedang dimainkan. Dari Medan, Makassar, Surabaya hingga Jakarta, pola kerusuhan serupa: aksi awalnya damai, lalu muncul provokasi, massa berubah brutal, hingga penjarahan meluas.

Benang merah yang muncul: apakah ini murni kemarahan rakyat, atau ada kekuatan besar yang menyetir dari balik layar?

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Baca Juga: Dengan Dalih Hasil Kesepakatan, Siswa SMAN 1 Kabanjahe di Kutip Uang SPP 200 Ribu, Disinyalir Langar Aturan Permendikbud

Jejak Oligarki yang Terguncang

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini tengah menabuh genderang perang melawan mafia dan oligarki. Dari sektor pangan, energi, pertambangan, hingga impor strategis, Prabowo mulai membongkar kartel-kartel yang selama puluhan tahun menjerat ekonomi bangsa.

Namun langkah itu tak berjalan mulus. Sejumlah pengamat menilai, kelompok oligarki yang merasa kepentingannya terancam bisa saja memanfaatkan momentum kerusuhan untuk melemahkan legitimasi pemerintah.

“Ketika bisnis mereka diganggu, reaksi baliknya bisa dalam bentuk menciptakan instabilitas. Kerusuhan bisa jadi senjata politik,” ujar Yusward seorang analis intelijen kepada TambunPos.com, (4/9)

Bayang-Bayang “Geng Solo”

Selain oligarki, Yusward juga menyorot isu tentang kelompok berpengaruh yang disebut “Geng Solo”. Nama ini menguat sejak lama, dituding punya jaringan politik dan ekonomi yang merambah pusat hingga daerah.

Ia menyebutkan dinamika kekuasaan pasca-Pemilu, rivalitas antara kubu Prabowo dengan lingkaran “Geng Solo” makin terbuka. Kerusuhan dan kekacauan bisa dijadikan alat tawar, bahkan ancaman, untuk mempertahankan pengaruh mereka di pusat kekuasaan.

Meski tak pernah ada pengakuan resmi, bayang-bayang “Geng Solo” selalu menghantui diskursus politik nasional.

Baca Juga: Kajagung Diminta Perintahkan Kajati Sumut Usut Penjualan Lahan Eks HGU PTPN II, Diduga Ada Keterlibatan Eks Direktur PTPN II Inisial IP

Skenario Benturan Polisi vs Rakyat

Salah satu pola paling mencurigakan adalah upaya sistematis membenturkan polisi dengan rakyat. Massa didorong untuk anarkis, aparat dipancing agar represif, lalu narasi besar digoreng: pemerintah gagal, polisi melawan rakyatnya sendiri.

Jika skenario ini berhasil, dampaknya fatal — mengikis kepercayaan publik pada institusi negara, sekaligus membuka ruang intervensi asing dengan alasan ketidakstabilan nasional.

Himbauan: Jangan Terjebak Provokasi

Masyarakat diimbau agar tidak mudah terpancing. Aspirasi politik sah disampaikan, namun jangan biarkan diri dimanfaatkan aktor-aktor yang bersembunyi di balik layar.

Polisi pada hakikatnya juga bagian dari rakyat. Jangan mau diadu domba, karena itulah yang justru diinginkan para provokator.

Ingat, yang diuntungkan dari benturan rakyat dengan aparat bukanlah rakyat, melainkan para oligarki dan kelompok yang sedang bermain di balik panggung.

(RD88)

 

Catatan Redaksi:

Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Apakah negeri ini akan jatuh ke dalam skenario oligarki dan geng politik yang rakus kuasa, atau justru mampu bangkit dengan agenda besar pemberantasan mafia yang dicanangkan Presiden Prabowo?

Kerusuhan dan penjarahan ini bukan sekadar kriminalitas jalanan, melainkan pertarungan besar tentang masa depan Bumi Pertiwi.