Scroll Untuk Baca Artikel
featuresHukum dan Kriminal

Iftar di Meja Kekuasaan: Ramadhan, Korupsi Pilkada, dan Sunyi yang Mencurigakan

×

Iftar di Meja Kekuasaan: Ramadhan, Korupsi Pilkada, dan Sunyi yang Mencurigakan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rendi Adhiyaksa

KPU
Foto:Gle/FB KPU DS

Deli Serdang | TambunPos.com, Ramadhan tiba dengan tenang. Di sudut-sudut kota, suara azan Maghrib membelah langit jingga, menandakan waktu berbuka. Meja-meja makan penuh dengan sajian sederhana—sepiring nasi, segelas teh manis, dan doa yang terucap lirih sebelum suapan pertama.

Namun, di tempat lain, ada meja yang lebih megah. Di balik dinding – dinding kekuasaan, hidangan tak sekadar nasi dan kurma. Di sana, meja berbuka dihidangkan dengan sesuatu yang lebih mahal anggaran yang tak jelas penggunaanya. Minggu (16/3/25).

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Dana sosialisasi Pilkada yang menguap entah ke mana. Sementara rakyat berbuka dengan syukur atas rezeki seadanya, mereka yang duduk di kursi kekuasaan berbuka dengan kesunyian yang mencurigakan.

Baca Juga:Diduga Salah Satu SPBU di Kota Bogor Masih Nerima Motor penghisap Bensin Jenis Pertalite

Ketika Janji Menguap Seperti Asap di Dapur Sahur

Pilkada Deli Serdang telah berlalu berbulan-bulan, tetapi jejak kecurangannya masih terasa. Dana sosialisasi miliaran rupiah yang seharusnya menjadi penerang bagi pemilih justru meredup di tengah jalan. KPU Deli Serdang mengklaim telah melaksanakan 90 kegiatan sosialisasi, tetapi rakyat bertanya: Di mana?

Di pasar, di warung kopi, di perkampungan yang remang oleh lampu minyak, tak ada jejak dari sosialisasi itu.

Siti, seorang penjual sayur di Kecamatan Sibiru – biru, masih mengingat kebingungannya saat hari pemilihan tiba. “Kami tahu ada pemilu, tapi siapa calonnya? Apa programnya? Tidak ada yang datang memberi tahu,” katanya sambil menata cabai di lapaknya.

Seperti asap yang menghilang dari dapur saat sahur, janji transparansi dan edukasi politik rakyat lenyap tanpa bekas. Dan kini, di bulan penuh keberkahan, dosa politik itu masih menggantung di udara.

Baca Juga:20 Anggota DPRD Deli Serdang Keok, Kejari Deli Serdang Turun Gunung ! Kasus Pagar Hutan Lindung Regemuk Bikin PT Tun Sewindu Panas – Dingin

Baca Juga: 20 Anggota DPRD Deli Serdang Keok, Kejari Deli Serdang Turun Gunung ! Kasus Pagar Hutan Lindung Regemuk Bikin PT Tun Sewindu Panas – Dingin

Ketika Ramadhan Tak Cukup untuk Menyadarkan Mereka

Ramadhan seharusnya menjadi momen muhasabah, saat mereka yang berkuasa merenungkan perbuatannya. Tapi sepertinya, bagi segelintir orang, bulan ini hanyalah jeda untuk beristirahat dari sorotan publik—bukan untuk bertobat, melainkan untuk memperhalus strategi menutup jejak.

Bukti paling nyata dari kesalahan bukan hanya pada angka partisipasi pemilih yang merosot hingga 32,2%, tetapi juga pada sikap pejabat yang memilih diam.

Ketua KPU Deli Serdang, yang seharusnya berdiri di garis depan untuk menjelaskan, lebih memilih membiarkan pesan wartawan tenggelam tanpa jawaban. Sekretaris KPU bahkan mengambil langkah lebih jauh memblokir nomor wartawan, Jumat,(28/2/25), seolah berharap kebenaran bisa dikunci di dalam ponselnya.

Diam bukanlah jawaban. Diam adalah pengakuan yang tak terucapkan.

Seperti orang yang berpura-pura berpuasa tetapi menyelinap ke belakang rumah untuk meneguk segelas air, mereka yang bungkam ini mungkin berpikir bahwa kesalahan mereka bisa ditutup dengan waktu. Bahwa Ramadhan akan membawa lupa, bahwa rakyat akan berhenti bertanya.

Tetapi mereka salah.

Dosa Politik Tak Bisa Dihapus dengan Doa Semata

Ramadhan adalah bulan pengampunan, tetapi pengampunan hanya diberikan bagi mereka yang mengakui kesalahan. Bagaimana mungkin ada maaf jika kejahatan masih terus disembunyikan?

Korupsi, seperti halnya dusta, tak bisa dihapus hanya dengan doa di sepertiga malam. Tak ada jumlah rakaat yang cukup untuk menebus miliaran rupiah yang seharusnya digunakan untuk mencerdaskan rakyat.

Dan seperti halnya Ramadhan yang selalu datang kembali, pertanyaan rakyat pun akan tetap ada:

Di mana uang itu?

Di mana suara kami?

Dan kapan keadilan berbuka dari tidurnya yang panjang?

(RD | TP)