Ket Foto : AKTIVIS FBS
BLORA – TAMBUNPOS.COM | Kehadiran proyek strategis milik Pertamina di Kabupaten Blora kembali menjadi sorotan tajam dari kalangan masyarakat sipil. Melalui pernyataan resminya, Grex, yang merupakan aktivis dari organisasi Front Blora Selatan (FBS), menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak pernah menolak atau menghalangi masuknya investasi maupun pembangunan di wilayah Kabupaten Blora, (21 Mei 2026).
Namun demikian, masyarakat menuntut adanya kepastian bahwa setiap aktivitas investasi berjalan sesuai aturan, serta memperhatikan dampak nyata yang dirasakan oleh warga sekitar, khususnya terkait fasilitas umum dan kenyamanan warga.
Pernyataan ini disampaikan Grex usai mengikuti pertemuan dan audiensi di DPRD Kabupaten Blora. Ia menjelaskan bahwa selama ini, baik masyarakat maupun pemerintah daerah telah memberikan dukungan penuh, kemudahan, dan akses seluas-luasnya bagi berjalannya aktivitas proyek milik Pertamina. Hal ini terlihat dari dibolehkannya penggunaan jalan kabupaten hingga melimpahnya lalu lintas kendaraan berat proyek yang melintas setiap harinya di ruas jalan milik daerah.
“Blora pada prinsipnya sangat terbuka terhadap segala bentuk investasi. Namun, di sisi lain, perusahaan juga harus mampu menunjukkan rasa kepedulian yang nyata terhadap masyarakat. Sebab, masyarakatlah yang ikut menanggung dampak langsung dari berjalannya aktivitas proyek tersebut,” ujar Grex.
Menurut Grex, tuntutan yang disampaikan masyarakat bukanlah sesuatu yang berlebihan atau memberatkan. Masyarakat hanya berharap adanya tanggung jawab yang jelas dan terukur terkait dampak sosial yang timbul, serta pemeliharaan fasilitas umum yang digunakan untuk menunjang kelancaran proyek tersebut.
Secara khusus, Grex juga menyoroti kondisi infrastruktur berupa jembatan dan jalan raya yang setiap hari dilintasi oleh kendaraan-kendaraan bertonase besar milik proyek. Menurut pandangannya, fasilitas tersebut sejatinya dibangun dan diperuntukkan bagi kebutuhan serta kenyamanan masyarakat umum. Oleh karena itu, diperlukan perhatian serius agar fasilitas vital tersebut tidak mengalami kerusakan dini atau kerusakan parah akibat beban berat yang melebihi ketentuan teknis semula.
“Kekhawatiran yang dirasakan oleh masyarakat itu sangat wajar dan beralasan. Apabila pengawasan lemah serta tidak ada kepastian tanggung jawab pemeliharaan, maka risiko kerusakan pada infrastruktur nantinya akan menjadi beban dan kerugian masyarakat sendiri,” tegasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, apabila jalan maupun jembatan di wilayah tersebut rusak dan tidak segera diperbaiki, dampak negatifnya akan langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari terganggunya aktivitas ekonomi warga, terhambatnya akses jalan para petani menuju lahan pertanian, hingga terganggunya mobilitas para pelajar yang hendak bersekolah.
Karena alasan itulah, Grex meminta pihak perusahaan agar tidak hanya berfokus mengejar target percepatan proyek semata. Perusahaan diharapkan juga memperhatikan faktor keselamatan dan keberlangsungan fasilitas publik yang dipakai selama kegiatan berlangsung, serta menjaga hubungan harmonis dengan warga sekitar.
Ia juga menegaskan bahwa kritik, masukan, maupun sorotan yang disampaikan oleh masyarakat tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk perlawanan atau penghambat investasi. Justru, kehadiran kontrol sosial dari masyarakat dinilai sangat penting agar pembangunan dapat berjalan secara sehat, transparan, dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat daerah.
“Kami bukan menolak kehadiran investasi. Kami hanya ingin ada keseimbangan yang adil antara kepentingan kelancaran proyek dengan hak-hak masyarakat Blora yang harus tetap terjaga dan terlindungi,” tegas Grex kembali menegaskan sikap organisasinya.
Di akhir pernyataannya, Grex memastikan bahwa Front Blora Selatan akan terus mengawal persoalan ini dan senantiasa memilih jalur dialog konstruktif serta penyampaian aspirasi secara konstitusional, demi terwujudnya pembangunan yang membawa manfaat besar bagi seluruh warga Kabupaten Blora.




