GROBOGAN – TAMBUNPOS.COM | Melonjaknya harga daging sapi di pasaran Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, memicu keluhan tersendiri bagi para pedagang bakso dan mi ayam. Kenaikan harga yang signifikan ini diduga kuat dipengaruhi oleh berkurangnya stok lokal akibat banyaknya ternak yang dijual ke luar daerah.
Keluhan ini disampaikan langsung oleh ratusan pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Mi Ayam dan Bakso (APMISO) Grobogan, saat acara halal bihalal yang digelar di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Grobogan, Rabu (15/4/2026).
Naik Hingga Rp140 Ribu per Kg
Ketua APMISO Grobogan, Yanto, menjelaskan bahwa harga daging sapi saat ini mengalami kenaikan cukup tinggi, yakni mencapai Rp15.000 per kilogram. Jika sebelumnya berkisar di angka Rp125.000, kini harganya tembus menjadi Rp140.000 per kg.
“Kenaikan ini diduga terjadi karena banyak ternak sapi dijual ke luar daerah, sehingga stok di dalam daerah berkurang drastis dan harga menjadi tidak terkendali,” ujar Yanto.
Menurutnya, kenaikan harga ini sudah terjadi sejak menjelang Lebaran dan hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Jika dibiarkan, kondisi ini akan semakin sulit dikendalikan.
“Saya minta kepada dinas terkait, khususnya Dinas Peternakan, untuk segera mengambil langkah tegas mengatasi masalah ini. Kondisi ini bisa menurunkan daya beli masyarakat karena kami terpaksa menaikkan harga jual bakso,” tegasnya.
DPR dan Harapan Pengawasan
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, yang hadir dalam kesempatan tersebut menyatakan siap membantu para pelaku usaha agar tetap bisa bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
“Kami akan membantu pelaku usaha, termasuk melalui dukungan BPOM di tingkat kabupaten. Selain itu, penting memastikan makanan yang dijual tetap sehat dan higienis agar masyarakat aman mengonsumsinya,” ujar Edy.
Ia juga menegaskan pentingnya pengawasan kualitas bahan makanan yang digunakan para pedagang. Di sisi lain, para pedagang juga berharap mendapatkan dukungan dari Dinas Kesehatan berupa alat pendeteksi bahan berbahaya, seperti boraks, guna menjamin keamanan produk yang mereka jual kepada masyarakat.
(Heri P/TP)




