Scroll Untuk Baca Artikel
BLORADaerah

Nasib Petani Terancam, Surat Terbuka Dikirim ke Presiden Soal Tutupnya PG GMM Bulog Blorao 

×

Nasib Petani Terancam, Surat Terbuka Dikirim ke Presiden Soal Tutupnya PG GMM Bulog Blorao 

Sebarkan artikel ini

“Jika tebu rakyat tak lagi memiliki tempat untuk digiling, maka yang sedang digiling sesungguhnya adalah harapan para petani.”

BLORA | TAMBUNPOS.COM –  Suara keras Kembali datang dari Kabupaten Blora. Kali ini, ribuan petani tebu dan pekerja menyampaikan keresahan mendalam mereka melalui surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Surat ini disampaikan sebagai respons atas berhentinya operasional Pabrik Gula (PG) GMM yang dikelola oleh Perum Bulog. Para petani merasa nasib dan mata pencaharian mereka kini berada di ujung tanduk, serta menuntut keadilan agar hak-hak mereka tetap terjamin, Pada Senin (1 Juni 2026).

Penutupan dan berhentinya aktivitas penggilingan di pabrik gula tersebut dinilai memberikan dampak yang sangat berat dan langsung terasa oleh perekonomian masyarakat setempat. Bagi warga Blora, keberadaan pabrik gula bukan sekadar bangunan industri atau tempat kerja semata, melainkan menjadi urat nadi kehidupan bagi ribuan keluarga yang selama ini menggantungkan sepenuhnya harapan hidupnya pada hasil bumi berupa tanaman tebu.

Dalam surat terbuka yang berisi aspirasi tersebut, para petani secara tegas menuntut adanya komitmen nyata dan kepastian hukum dari jajaran direksi Perum Bulog. Poin utamanya, mereka menuntut agar seluruh hasil panen tebu yang sudah mereka tanam dan rawat tetap dibeli serta diserap oleh pihak pengelola sesuai dengan harga acuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, tanpa adanya pemotongan harga atau penundaan pembayaran yang merugikan.

Selain tuntutan pembelian tebu, para petani juga menyampaikan lima poin penting permintaan perhatian khusus kepada pemerintah pusat, yaitu:

Meminta komitmen penuh dari direksi Perum Bulog untuk menjamin pembelian tebu petani sesuai dengan ketentuan harga yang ditetapkan pemerintah.

Memerintahkan kementerian dan lembaga terkait untuk segera melakukan audit serta evaluasi secara menyeluruh, mendalam, dan objektif terhadap kondisi riil Pabrik Gula GMM Bulog.

Menjamin solusi yang konkret dan pasti guna melindungi sepenuhnya kepentingan para petani, agar seluruh hasil panen mereka dapat terserap dan memiliki nilai ekonomis yang layak.

Mendorong penyelesaian masalah perusahaan secara transparan, terbuka, dan berkeadilan, dengan selalu mengutamakan keselamatan ekonomi rakyat di atas kepentingan lainnya.

Menyusun langkah-langkah penyelamatan bagi sektor pergulaan rakyat di wilayah Blora, agar tidak terjadi kerugian beruntun yang lebih besar serta kerusakan ekonomi yang lebih parah di masa mendatang.

“Petani Tidak Meminta Belas Kasihan, Kami Hanya Minta Keadilan”

Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam surat terbuka tersebut adalah pesan langsung yang ditujukan kepada Bapak Presiden. Di sana tertulis tegas bahwa para petani tidak sedang meminta belas kasihan, bantuan sosial, ataupun kemewahan. Mereka hanya meminta satu hal: keadilan.

“Petani tidak meminta belas kasihan. Petani hanya meminta keadilan. Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya ingin hasil jerih payah kami dihargai dan masa depan kami tidak dikorbankan oleh persoalan yang berada di luar kemampuan kami,” demikian bunyi isi surat tersebut.

Para petani juga mengingatkan pemerintah akan makna besar dari keberadaan pabrik gula ini. Menurut mereka, ketika sebuah pabrik gula berhenti beroperasi, maka yang sesungguhnya terancam dan mati bukan hanya bangunan fisik atau mesin-mesinnya saja, melainkan kelangsungan hidup ribuan keluarga yang telah bekerja keras mengolah tanah dan merawat tebu dari awal hingga panen.

Mereka sangat berharap agar suara yang bergema dari ladang-ladang tebu di Blora ini dapat terdengar jelas dan sampai ke meja kerja Bapak Presiden. Sebab, seperti yang tertulis dalam surat itu, sebuah negara yang kuat tidak dibangun dari megahnya gedung-gedung pemerintahan, melainkan dari terjaminnya kesejahteraan rakyatnya, terutama mereka yang bekerja dan berproduksi di sektor pertanian.

Di akhir surat, terdapat satu kalimat penegas yang mewakili keprihatinan mendalam seluruh warga: “Jika tebu rakyat tak lagi memiliki tempat untuk digiling, maka yang sedang digiling sesungguhnya adalah harapan para petani.”

Surat ini ditandatangani atas nama seluruh Petani Tebu Blora dan seluruh rakyat yang peduli terhadap masa depan pertanian Indonesia.

(HR/TP)