DaerahSeni dan BudayaSosialSumut

Menelusuri Peninggalan Sejarah di Kota Binjai

288
×

Menelusuri Peninggalan Sejarah di Kota Binjai

Sebarkan artikel ini

Binjai I TambunPos.com

Senin, 19 Desember 2022.
Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Suprayitno MHum, menyebut Benteng Timbanglangkat sebagai objek sejarah yang penting untuk ditelusuri. Sehingga menjadi tugas pemerintah untuk mencari dan menetapkan peninggalan bersejarah ini sebagai situs cagar budaya.

“Ini benteng penting. Karena di sinilah terjadinya Perang Sunggal,” ungkap Ketua Tim Cagar Budaya Kota Binjai itu kepada wartawan, saat menelusuri beberapa daerah pemukiman di Kota Binjai, yang diduga sebagai tempat berdirinya Benteng Timbanglangkat, Sabtu (17/11/2022) siang.

Dikatakan Suprayitno, Benteng Timbanglangkat ialah markas pertahanan dari penguasa Urung Serbanyaman (Sunggal), yang diperkirakan dibangun pada abad ke-19. Sunggal sendiri menjadi salah satu dari empat daerah federasi (landschape) Kesultanan Deli, selain juga Urung Sapuluhduakuta (Hamparanperak), Urung Sukapiring (Kampungbaru), dan Urung Senembah (Patumbak).

“Besar kemungkinan, Timbanglangkat saat itu bukan hanya basis pertahanan, tapi juga pelabuhan yang penting,” katanya, didampingi Penggiat Budaya Kota Binjai, Resti Oktriani Sinulingga, dan Keturunan Penguasa Timbanglangkat, Datuk Amrunsyah.

Bahkan menurut Suprayitno, di lokasi Benteng Timbanglangkat inilah tempat terjadinya peristiwa Perang Sunggal, yakni sebuah perlawanan fisik rakyat pribumi terhadap Pemerintah Kolonial Belanda pada abad ke-19.

Peristiwa ini, katanya, berlangsung selama 11 bulan, terhitung sejak Mei 1872 hingga Maret 1873. Bahkan tanggal 17 Mei 1872, yang diyakini sebagai hari dimulainya pertempuran bersejarah ini kemudian ditetapkan menjadi hari jadi Kota Binjai.

“Berdasarkan catatan kolonial, Benteng Timbanglangkat digambarkan sebagai sebuah bangunan pemukiman yang dibatasi dinding dari tanah liat dan pagar bambu runcing setinggi 3,5 meter, yang berjarak sekitar 100 langkah dari pertemuan Sungai Mencirim dan Sungai Bingei,” terang Suprayitno.

Selain itu, benteng ini juga dilindungi parit selebar 2,5 meter dengan kedalaman sekitar 3,5 meter, dan di dalamnya terdapat rumah-rumah panggung sebagai hunian.

Akan tetapi setelah Benteng Timbanglangkat berhasil diduduki oleh pasukan Belanda, menurut Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumatera Utara tersebut, tempat ini kemudian dibakar karena dianggap terlalu kotor dan kumuh.

“Padahal sebenarnya tidak ada perintah resmi dari Pemerintah Kolonial Belanda untuk melakukan pembakaran atau pemusnahan benteng tersebut,” ungkap akademisi 61 tahun tersebut.

Pada peristiwa Perang Sunggal sendiri, Suprayitno menyebut, terdapat tiga tokoh yang memiliki peran sangat penting. Mereka antara lain, Datuk Mohamad Dini Surbakti, dan Datuk Abdul Djalil Surbakti dan Datuk Sulong Barat. Ketiganya bahkan sempat ditawan Belanda di Cilacap, Jawa Tengah.

Dalam masa penahanan itu, Datuk Mohamad Dini Surbakti dan Datuk Abdul Djalil Surbakti pada akhirnya wafat dan dimakamkan di sana. Sedangkan Datuk Sulung Barat dipulangkan ke Sunggal pada 1885 dan wafat pada 1912.

“Jadi, setelah kalah perang dengan Belanda, keturunan dan para pengikut Penguasa Timbanglangkat, memutuskan mundur ke Tanduk Banua, yang kini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang,” jelas Suprayitno.

Untuk menghindari kejaran musuh, keturunan dan para pengikut Penguasa Timbanglangkat tadi kemudian beranjak menuju Kuta Gajah atau Kampung Gajah (Sibolangit), dengan melintasi jalan setapak dan menyusuri hutan melewati Rantaubetul dan Sapouruk.

“Jadi, Kampung Gajah ini diyakini sebagai pemukiman awal komunitas marga Surbakti Gajah. Kampung ini juga yang menjadi daerah asal para penguasa Sunggal. Sehingga tidak heran kalau gambar gajah ada dalam Bendera Urung Sunggal,” jelas Suprayitno.

(SDT/TP)

TambunPos

~Tidak ada kata terlambat untuk memulai kehidupan yang kamu inginkan~